Zaman berkembang begitu pesat. Saking pesatnya, anak kelahiran 2003 seperti saya bisa menyaksikan beberapa perubahannya. Waktu saya kecil, alat komunikasi elektronik yang dioperasikan dengan sentuhan jari hanyalah mimpi. Sekarang, hampir semua orang menggunakan smartphone, salah satunya saya sendiri.

Saya beberapa kali mendengar kisah seniman yang hidup di era wartel atau nokia. Untuk membuat sebuah tulisan, mereka harus menempuh jarak untuk mencari buku referensi. Kejadian nyasar, kehabisan uang, pinjam motor teman, berjalan kaki, kehujanan dan kejadian-kejadian ajaib lain mereka alami, hanya untuk berguru dan menemukan informasi yang tepat. Sekarang, informasi bisa kita dapatkan dengan sangat mudah. Sumber informasi konvensional seperti buku, koran, majalah atau tabloid mulai ditinggalkan.
Adik bungsu saya bahkan mengerti lebih banyak hal daripada saya (membuat saya terkadang merasa semakin tua). Fenomena tersebut membuat saya berpikir, “Jika materi sekolah formal saja sudah tersedia di internet, mengapa anak-anak masih berangkat ke sekolah, duduk di kursi, diam selama 5-8 jam untuk mendengarkan pelajaran?” Di masa libur sekolah karena pandemi ini pun tidak membuat adik saya bodoh. Dia mengerti cara menghitung persegi panjang, dia memahami apa itu cuaca, bahkan dia mengetahui tari-tari tradisional dan asal daerahnya.

Pertanyaan itu membawa saya pada sebuah pernyataan: satu-satunya yang tak tergantikan dari sekolah formal adalah interaksi sosial. Bagi saya, hal yang tak tergantikan dari sekolah itulah yang seharusnya dijadikan ‘materi utama’ dibandingkan materi akademik. Zaman telah berubah, maka cara pembelajaran di sekolah harus mengikuti biar gak kuno.

Enam tahun duduk di bangku SD, saya belajar untuk berteman, berbagi, meminta maaf dan mengucapkan terimakasih. Mungkin bentuknya sangat sederhana, namun pengalaman itu menjadi fondasi saya di usia-usia selanjutnya. Sekarang saya sudah duduk di bangku SMA, dan pelajaran interaksi sosial itu masih menjadi ‘materi utama’ saya (meskipun tidak masuk sebagai subjek pelajaran sekolah).

Seringkali, hubungan berjalan tidak lancar karena kurangnya keterbukaan komunikasi. Akan ada kalimat seperti ‘kamu gak peka’ atau ‘kamu gak ngerti aku’. Hal tersebut bisa terjadi karena dua faktor: salah satunya tidak mengkomunikasikan perasaannya, atau salah satunya tidak sensitif dengan komunikasi pasangannya. Kesalahpahaman akan tetap terjadi, maka jangan lupakan posisi minta maaf dan terimakasih. Cinta Tuhan saja sering kita salahpahami sebagai musibah, apalagi cinta kita terhadap sesama. Pada akhirnya, kita akan dipahami oleh orang, waktu, dan tempat yang tepat.

Apalagi, dengan inovasi komunikasi smartphone, kita jadi sering mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar kita. Yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh. Otak dipaksa mengerjakan banyak hal di waktu bersamaan ketika kita harus menanggapi ratusan pesan yang masuk. Ketika kita tidak mampu membalasnya segera, kita akan dianggap cuek. Padahal, pada kenyataannya, barangkali kita sedang menyapu, mencuci baju atau membaca buku. Di sela waktu, kita membuka satu persatu pesan, memutuskan mana yang akan dibalas terlebih dahulu. Yang tak terbalas, bisa jadi karena kuota habis, lupa, atau pesannya tertumpuk.

Hal-hal instan di masa sekarang menaikkan peluang judgmental terhadap orang lain.

Ada juga fenomena, di mana saya menjadikan smartphone sebagai tempat pelarian. Ketika saya bosan, saya buka youtube. Ketika saya sedih, saya main game. Ketika saya bingung, saya buka artikel. Alih-alih berkomunikasi dengan diri sendiri dan menyelesaikan masalah pribadi, saya malah menundanya dengan berlari. Alhasil, perasaan itu tidak rampung, menumpuk dan bisa ‘meledak’ di kemudian hari.

Itulah yang membuat saya yakin bahwa komunikasi adalah bagian penting dalam kehidupan. Karenanya, hal tersebut menjadi hal utama yang saya coba kembangkan. Komunikasi tidak hanya terbatas pada interaksi kita kepada sesama, namun juga kepada diri sendiri, alam semesta dan Tuhan. Tanpa komunikasi, bagaimana kita bisa hidup?

Mempelajari komunikasi adalah cara untuk memahami bahwa kita adalah manusia. Tanpa perlu diberi tahu, Tuhan mengerti apa yang kita butuhkan dan rasakan—tapi kita bukan Dia. Kita manusia. Gari; manusia yang seperti apa?

Kudus, 17 Juni 2020